Toilet Training

Toilet training

Seorang ibu menghela napas di lorong pospak (popok sekali pakai) sebuah supermarket. Matanya menatap harga sekantung pospak. Dengan enggan, tangannya terulur. Harga pospak kini kian mahal, namun dia tetap harus membeli juga. Anaknya belum lulus toilet training…

Dilema ini juga dialami oleh sebagian besar orangtua. Biaya pospak semakin mahal. Inginnya anak sudah lulus toilet training, tapi banyak orangtua yang kebingungan bagaimana cara memulainya.

Mulai usia 18 bulan, biasanya anak sudah bisa diajarkan toilet training, tapi selain berpatokan pada usia, orangtua juga sebaiknya memerhatikan beberapa hal lain, di antaranya: Apakah anak sudah bisa mengikuti instruksi sederhana? Apakah anak sudah bisa duduk dan berdiri sendiri?

Pertimbangkan juga jika anak sedang mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Jika anak sedang mendapat pengasuh yang baru, penyapihan, mendapat adik, sebaiknya toilet training ditunda hingga dia sudah terbiasa dengan keadaan yang baru.

Seorang ibu menuturkan bahwa dia berencana akan melakukan toilet training saat anak keduanya berusia 2th, tapi dengan pertimbangan bahwa di usia yang sama si anak juga rencananya akan disapih, maka toilet training kemudian dimajukan jadwalnya saat anak 18bln. Saat ini, usia anak 2th 8bln, sudah lulus toilet training 100%.

Selain memeriksa kesiapan anak, orangtua juga harus memeriksa kesiapan diri sendiri karena toilet training membutuhkan waktu dan ketekunan. Jika orangtua sedang menghadapi kerepotan besar, misalnya pindah rumah, sedang mengandung dan mengalami morning sickness, sebaiknya toilet training ditunda dulu. Jika kedua orangtua bekerja, harus juga diperhatikan adakah orang lain yang membantu melatih toilet training?

Beberapa persiapan juga harus dilakukan pada saat ini. Di antaranya membeli celana dalam jumlah banyak, bisa juga dengan menyiapkan tempat pipis khusus untuk anak laki-laki, dan menyiapkan dudukan toilet khusus anak dengan gambar yang anak suka. Untuk orangtua, sebaiknya sediakan bangku kecil karena menemani anak BAB biasanya akan menghabiskan waktu cukup lama.

Langkah berikutnya adalah dengan melepas pospaknya. Biarkan anak mengompol, bahkan buang air besar tanpa pospak. Tentu hal ini akan merepotkan dan menjijikan bagi beberapa orangtua, tapi ini adalah cara paling efektif untuk mengajarkan toilet training. Saat anak merasa basah, kotor, dan tidak nyaman, biasanya dia akan memberitahu (bisa dengan kata-kata atau memberi kode jika anak belum lancar bicara). Ajak anak ke toilet untuk membersihkan diri kemudian ganti celana basah/ kotornya dengan yang baru. Sambil melakukan itu, orangtua juga harus mengatakan, “Kamu pipis/ pup. Kalau pipis/ pup, di sini aja.” Orangtua juga dapat menunjukkan hubungan antara pup dengan toilet. Jika anak pup, ambil kotorannya dan buang ke kloset. Kalau anak mau, dia bisa membantu menekan flush dan menyaksikan kotorannya menghilang (tapi jangan memaksakan hal ini).

Dengan anak merasakan tidak nyaman di celananya, lama-lama anak akan berpikir apa yang dia rasakan sebelum celananya basah atau kotor. Nantinya dia akan bilang atau memberi kode saat rasa mau pipis/ pup datang.

Jika anak masih saja mengompol, orangtua bisa mencoba membelikan celana dengan gambar kesukaannya. Biasanya anak akan termotivasi untuk memberi tahu saat perlu ke toilet agar celana kesukaannya tetap kering dan bersih. Bisa juga dengan mengajarkan konsekuensi bahwa anak harus membersihkan pipisnya sendiri. Tentu bukan bermaksud bahwa anak bisa membersihkan sampai bersih, tapi mengajarkan bahwa dia akan repot sendiri kalau tidak pipis pada tempatnya.

Ingat selalu untuk memuji anak setiap kali dia bisa bilang atau memberi kode. “Wah, kamu udah bisa bilang kalau mau pipis. Asyik deh, celananya kering deh.” Kalau dia sudah lama kering lalu tiba-tiba mengompol lagi, it’s ok, accidents do happen. Berikan motivasi terus.

Repot? Pasti, tapi jika anak sudah berhasil toilet training, Anda tentu dapat menghemat biaya pospak, kan? 😀

Leave a Reply